George
Polya : “solving a problem means finding a way out difficulty, a way around an
obstacle, attaining an aim which is not immediately attainable.”
Becker & Shimada (dalam
McIntosh, R. & Jarret, D., 2000:5) menegaskan hal ini sebagai berikut:
“Genuine problem solving
requires a problem that is just beyond the student’s skill level so that she
will not automatically know which solution method to use. The problem should be
nonroutine, in that the student perceives the problem as challenging and unfamiliar, yet not insurmountable.”
Problem
solving adalah pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan/ soal yang menantang
pikiran siswa (challenging) dan soal tersebut tidak otomatis diketahui cara
penyelesaiannya (nonroutine) berdasar data dan informasi yang akurat, sehingga
dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.
Secara garis besar
terdapat tiga macam interpretasi istilah problem solving dalam
pembelajaran matematika, yaitu
1. Problem solving sebagai
tujuan
Para pendidik, matematikawan,
dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan matematika seringkali
menetapkan problem solving sebagai salah satu tujuan pembelajaran
matematika. Bila problem solving ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan
pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur,
atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal ini
adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve
problems) merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar
matematika.
2. Problem solving sebagai
proses
Pengertian lain tentang problem
solving adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, problem
solving dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan
yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini,
yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang
digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah proses ini sangat
penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam
kurikulum matematika. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses problem
solving dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat
dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang
pemrosesan informasi atau proses problem solving telah banyak dilakukan.
Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar problem
solving dan aplikasi dalam pengajaran.
3. Problem solving sebagai
keterampilan dasar
Terakhir, problem solving sebagai
keterampilan dasar (basic skill). Pengertian problem solving sebagai
keterampilan dasar lebih dari sekedar menjawab tentang pertanyaan: apa itu problem
solving?
Georgi Polya di dalam karyanya yang diberinya
judul How to Solve It (dalam Posamentier dan Stepelman, 1999),
menyarankan metode heuristc di dalam problem solving sebagai
berikut :
a. Memahami soal/masalah - selengkap mungkin.
Untuk dapat melakukan
tahap 1 dengan baik, maka perlu latihan untuk memahami
masalah baik berupa soal
cerita maupun soal non-cerita, terutama dalam hal:
1). apa saja
pertanyaannya, dapatkah pertanyaannya disederhanakan,
2). apa saja data yang
dipunyai dari soal/masalah, pilih data-data yang relevan,
3). hubungan-hubungan
apa dari data-data yang ada.
b. Memilih rencana penyelesaian – dari
beberapa alternatif yang mungkin.
Untuk dapat melakukan
tahap 2 dengan baik, maka perlu keterampilan dan
pemahaman tentang
berbagai strategi pemecahan masalah (ini akan di bahas lebih
lanjut pada bagian
tersendiri).
c. Menerapkan rencana tadi – dengan
tepat, cermat dan benar.
Untuk dapat melakukan
tahap 3 dengan baik, maka perlu dilatih mengenai:
1). keterampilan
berhitung,
2). keterampilan
memanipulasi aljabar,
3). membuat penjelasan (explanation)
dan argumentasi (reasoning).
d. Memeriksa jawaban – apakah sudah
benar, lengkap, jelas dan argumentatif
(beralasan).
Untuk dapat melakukan
tahap 4 dengan baik, maka perlu latihan mengenai:
1). memeriksa
penyelesaian/jawaban (mengetes atau mengujicoba jawaban),
2). memeriksa apakah
jawaban yang diperolah masuk akal,
3). memeriksa pekerjaan,
adakah yang perhitungan atau analisis yang salah,
4). memeriksa pekerjaan,
adakah yang kurang lengkap atau kurang jelas.
Siswa seringkali
terjebak pada tahap 3 saja, sering melupakan tahap 4 dan mengabaikan
tahap
1 dan tahap 2.
Posamentier dan Krulik mengidentifikasi sejumlah
strategi umum, yang biasa ditempuh dalam problem solving matematika, di antaranya yaitu
:
a)
Lukis sebuah gambar atau diagram (make a picture or
a diagram)
b)
Temukan pola
c)
Dugalah sebuah jawaban lalu memeriksanya (guess and
check atau trial and error)
d)
Lakukan analisis mulai dari jawaban yang dikehendaki
(working backward)
e)
Gunakan masalah yang lebih sederhana (use a simpler
problem)
f)
Gunakan konteks yang lebih khusus atau kasus ( use a
case problem)
g)
Temukan masalah yang serupa atau analog,
menyelesaikannya, lalu membandingkannya dengan soal semula (use a similar
problems)
h)
Gunakan kasus yang ekstrim (considering extreme
cases)
i)
Gunakan titik pandang berbeda (adopting a different point
of view)
j)
Gunakan sifat simetri atau pencerminan (use a
symmetry)
k)
Buat persamaan (make an equation) atau buat notasi
yang tepat (use appropriate notation)
l)
Pecahkan masalah menjadi beberapa submasalah lalu
menyelesaikannya (devide into subproblems)
m) Buat tabel atau bentuk
daftar lain yang sistematis seperti diagram pohon, diagram alir, atau barisan
(make a table or an organized list)
n)
Gunakan kontadiksi (use cobtradiction)
o)
Melakukan percobaan (experimenting)
p) Mempraktekkan masalah
(act out the problem)
q)
Menggunakan deduksi atau rumus (use deduction)
r)
Menggunakan induksi matematika
Contoh
Berapa jumlah dari deret
n suku dari 7 + 77 + 777 + 7777 + ...., dengan suku ke-k adalah
bilangan k angka yang setiap angkanya adalah 7.
Langkah pertama, pahami
dahulu masalah yang ada yakni soal mengenai jumlah dari deret. Kedua,memilih
rencana penyelesaian yakni dengan menggunakan masalah yang serupa atau analog,
menyelesaikannya, lalu membandingkannya dengan soal semula (use a similar problems).
Ketiga, menerapkan
rencana sebelumnya. Keempat, memeriksa apakah jawaban tadi masuk akal atau
adakah perhitungan atau analisis yang salah.
Rutin:
Umumnya dilakukan dengan
mencari bentuk penjumlahan beberapa suku untuk menemukan apakah ada pola yang
terlihat. Namun akan segera terlihat, bahwa strategi ini tidak cocok.
Menggunakan masalah yang mirip/analog:
Pandang deret berikut
hingga suku ke-n .
9 + 99 + 999 + .... =
(10 – 1) + (100 – 1) + (1000 – 1) + ....
= (10 + 100 + 1000 + ...
) – ( 1 + 1 + 1 + ... )
=
- n
Oleh karena 7 =
maka
7 + 77 + 777 + ... =
Gunakan masalah yang lebih sederhana (use a simpler problem)
Suatu masalah kadang
lebih mudah diselesaikan bila kita membuatnya menjadi lebih sederhana. Cara ini
dapat ditempuh dengan menyederhakan bentuk atau variabel.
Contoh.
Buktikan bahwa untuk
setiap a, b, c, d bilangan real antara 0 dan 1,
berlaku hubungan: (1 – a)(1 – b)(1 – c)(1 – d) >
1 – a – b – c – d.
Rutin:
Umumnya kita terjebak
dengan menganalisis ketaksamaan di atas, namun analisis ini cenderung panjang
dan mungkin melelahkan.
Menggunakan masalah serupa yang lebih sederhana:
Pandang (1 – a)(1
– b) > 1 – a – b.
Ini mudah dibuktikan,
karena (1 – a)(1 – b) = 1 – a – b + ab >
1 – a – b . Kemudian kalikan kedua ruas dengan (1 – c)
sebagai berikut:
(1 – a)(1 – b)(1
– c) > (1 – a – b)(1 – c)
= 1 – a – b –
c + ab + bc
> 1 – a – b
– c
sehingga (1 – a)(1
– b)(1 – c) > 1 – a – b – c.
Cara serupa diterapkan
kembali dengan mengalikan (1 – d) pada kedua ruas, untuk memperoleh ketaksamaan
yang hendak dibuktikan.
Gunakan kontradiksi (use contradiction)
Contoh.
Buktikan bahwa bilangan
prima ada tak hingga banyaknya.
Rutin:
Biasanya siswa tidak
memiliki ide untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak ada prosedur rutin yang
mereka pelajari yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Menggunakan kontradiksi:
Andaikan saja ada
berhingga banyaknya bilangan prima, katakanlah yang tertinggi adalah P.
Sekarang dapatkah kita menyusun suatu kontradiksi dengan pengandaian ini.
Perhatikan, bahwa kita
dapat mengalikan seluruh bilangan prima yang ada. Katakanlah hasil kalinya
adalah K.
K = 2 × 3 × 5 × 7 × 11 ×
13 × ... × P
Tapi perhatikan bahwa K
+ 1 adalah sebuah bilangan prima, karena bilangan baru yang lebih besar
dari P ini tidak dapat dibagi dengan bilangan prima yang lainnya. Dengan
demikian tidak benar bahwa ada bilangan prima terbesar P. Karena itu jelas
bahwa bilangan prima ada tak hingga banyaknya.
Kelebihan Pembelajaran Problem Solving
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan
dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan pembelajaran problem solving
1. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang
dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain
2. Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan
waktu yang lama.
3. Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .
Selanjutnya, untuk
menambah wawasan tentang kesalahan dan hambatan yang sering muncul dalam
memecahkan masalah, berikut ini daftar yang disadur dari buku tulisan Arthur
Whimbey dan Jack Lochhead tahun 1999 yang berjudul “Problem solving
and Comprehension”.
1. Ketidakcermatan dalam
membaca.
a. Membaca soal tanpa perhatian
yang kuat pada makna/pengertiannya.
b. Mengabaikan satu atau lebih
kata yang kurang familiar.
c. Mengabaikan satu atau lebih
fakta atau ide.
d. Tidak membaca kembali bagian
yang sulit.
e. Memulai menyelesaikan soal
sebelum membaca lengkap soal tersebut.
2. Ketidakcermatan dalam
berpikir.
a. Mengabaikan akurasi
(mendahulukan kecepatan).
b. Mengabaikan kecermatan
penggunaan beberapa operasi.
c. Mengartikan kata atau
melakukan operasi secara tidak konsisten.
d. Tidak memeriksa rumus atau
prosedur saat merasa ada yang tidak benar.
e. Bekerja terlalu cepat.
f. Mengambil kesimpulan di
pertengahan jalan tanpa pemikiran yang matang.
3. Kelemahan dalam
analisis masalah.
a. Gagal membedah masalah
kompleks menjadi bagian-bagian atau gagal menggunakan bagian-bagian masalah
untuk memahami masalah secara keseluruhan.
b. Tidak menggunakan pengetahuan
atau konsep utama untuk mencoba memahami ide-ide yang kurang jelas.
c. Tidak menggunakan kamus atau
sumber lainnya saat diperlukan untuk mamahami masalah.
d. Tidak secara aktif
mengkonstruksi ide atau gagasan di atas kertas (bila coret-coretan di atas
kertas dapat membantu memahami masalahnya).
4. Kekuranggigihan.
a. Tidak percaya diri atau
menganggap enteng masalah.
b. Memilih jawaban berdasarkan
intuisi belaka (menggunakan perasaan dalam mencoba menebak jawaban).
c. Menyelesaikan masalah hanya
secara teknis belaka tanpa pemikiran.
d. Berpikir nalar hanya pada
bagian kecil masalah, menyerah, lalu melompat pada kesimpulan.
e. Menggunakan pendekatan
“sekali tembak” dalam menyelesaikan masalah, dan bila tidak berhasil lalu
menyerah.
Daftar Pustaka
Goldin, G. A. &
McClintock, C. E. “The theme symmetry in problem solving” dalam
Krulik, S. & Reys,
R. E. (editor). 1980. Problem solving in school mathematics.
New York: the National
Council of Teachers of Mathematics, Inc.
Musser, G. L. “Problem-solving
strategies in school mathematics” dalam Krulik, S. &
Reys, R. E. (editor).
1980. Problem solving in school mathematics. New York:
the National Council of
Teachers of Mathematics, Inc.
Polya, G. 1945. How
To Solve It, a new aspect of mathematical method. New Jersey:
Princeton University
Press.
Posamentier, A. S. &
Stepelman, J. 1999. Teaching Secondary School Mathematics,
techniques & enrichment
units.
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar