Rabu, 14 Desember 2011

CONSTRUCTIVM


Constructivism adalah pandangan teoritis yang mengatakan bahwa pelajar lebih mengarah pada mengkonstruk daripada hanya sekedar menyerap pengetahuan dari pengalamannya (Ormrod, 2006).
Constructivism adalah pengetahuan baru bahwa siswa mengkonstruk pemahaman mereka sendiri tentang dunia (Elliott, et. al, 2000)
Mengutip definisi Constructivism menurut Shuell (1996, dalam Elliott, et al 2000)
“The Learner does not merely record or remember the material to be learned and the task to be performed, selects information perceived to be relevant, and interprets that information on the basis of his or her existing knowledge and existing needs. In the process, the learner adds information not explicitly provided by the teacher whenever such information is needed to make sense of the material being studied. This process is an active one which the learner must carry out various operations on the new materials in order for it to be acquired in a meaningful manner”
Dua kata kunci dalam pengertian di atas adalah aktif dan pemaknaan. Aktif berarti mengusahakan berbagai perlakuan pada materi baru agar dapat memiliki makna. Sedangkan pemaknaan itu sendiri berarti pelajar mencocokkan pengetahuan baru dengan skema yang sudah ada dalam pikiran sehingga diketahui asosiasi dari keduanya.

Filsafat konstruktivisme mengatakan bahwa pengetahuan seseorang itu dikonstruksikan oleh siswa sendiri (Suparno,1996).

Konstruktivisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak serta merta. (Steffe, 1991). Selanjutnya Steffe dan Kieren (1995) menyatakan bahwa dengan pendekatan konstruktivisme, aktifitas matematika dapat diwujudkan melalui penyajian masalah, kerja berpasangan atau dalam kelompok kecil serta diskusi kelas. Jadi, dalam pendekatan konstruktivis pembelajaran harus dirancang dengan pendekatan problem solving, dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika.
Jadi, dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa constructivism adalah suatu pandangan teoritis yang menyatakan bahwa siswa diberi kebebasan untuk mengkonstruk pengetahuan melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman kita dengan orang lain.
Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalahperan aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.

Contoh :
Menghitung Nilai Rata-Rata
Contoh lain yang dapat dikembangkan oleh guru adalah menentukan rata-rata hitung. Perhatikan langkah-langkah pembelajarannya.

(a) Siapkan beberapa menara blok yang tingginya berbeda-beda sebagai benda kongkrit bagi anak.
(b) Minta anak untuk memotong beberapa menara blok yang lebih tinggi sesuai dengan keinginannya.
(c) Tempelkan potongan menara blok yang tertinggi kepada menara blok yang terpendek. Selanjutnya, potong sebagian menara blok yang lebih tinggi dan letakkan atau tempelkan pada menara blok yang kurang tinggi. Lakukan hal ini seterusnya hingga semua menara blok adalah sama tingginya. Tinggi menara blok tersebut yang sudah rata disebut rata-rata tingggi.
(d) Ulangi kegiatan di atas, dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu setiap menara blok dipotong atau dipisahkan secara vertikal. Hal ini dilakukan secara berturut-turut. Selanjutnya, susun hasil potongan dengan cara melintang (horizontal), yaitu melengketkan pada kertas atau buku matematika anak.
Setelah hal ini dilakukan oleh anak, ajak mereka untuk berpikir bagaimana jika menara blok tersebut dibagi oleh lima orang anak sama banyak? Dari sini siswa diharapkan dapat mengkonstruksi sendiri tentang konsep pembagian, yaitu
25/5 = 5. Dengan demikian, rata-rata tinggi menara blok tersebut adalah 5.

Dengan pendekatan seperti di atas, pada akhirnya anak dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui aktivitas yang dilakukan. Dengan kata lain, tanpa mereka diajar secara paksa, anak akan memahami sendiri apa yang mereka lakukan dan pelajari melalui pengalamannya.
Matthews (dalam Suparno, 1997) secara garis besar membagi aliran konstruktivisme menjadi dua, yaitu konstruktivisme sosial dan konstruktivisme kognitif.



*    Konstruktivisme Sosial (Socio Constructivism)
Lev Semenovich Vygotsky menyatakan bahwa peserta didik dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme social (socio-constructivism). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.  Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.  Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dan memecahkan masalah.  Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan peserta didik itu belajar mandiri.
Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia. Secara umum, penganut faham konstruktivisme sosial memandang bahwa pengetahuan matematika merupakan konstruksi sosial.  Hal ini didasarkan pada  pandangan Ernest yang menyatakan bahwa: (1) Basis dari pengetahuan matematika adalah pengetahuan bahasa, perjanjian dan hukum-hukum, dan pengetahuan bahasa merupakan konstruksi sosial; (2) Proses sosial interpersonal diperlukan untuk membentuk pengetahuan subyektif matematika yang selanjutnya melalui publikasi akan terbentuk pengetahuan matematika; obyektif dan (3) Obyektivitas itu sendiri merupakan masalah sosial. Konstruktivisme sosial mengaitkan antara pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif dalam suatu siklus melingkar.  Maksudnya, pengetahuan matematika baru terbentuk melalui suatu siklus melingkar yaitu dimulai dari pengetahuan subyektif ke pengetahuan obyektif melalui suatu publikasi.  Pengetahuan obyektif matematika diinternalisasi dan dikonstruksi oleh peserta didik selama proses belajar matematika.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa menurut pandangan konstruktivisme sosial, pengetahuan itu diperoleh secara  individu yaitu dengan  mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari proses interaksi dengan obyek yang dihadapinya serta pengalaman sosial.

*    Konstruktivisme Kognitif
Konstruktivisme psi-kologi biasanya juga disebut konstruktivisme kognitif lebih menekankan bahwa pengetahuan disusun oleh pembelajar yang aktif dan independen yang memecahkan masalah dengan menarik makna dari pengalaman dan konteks terjadinya pengalaman, dan aliran ini dianut oleh Jean Piaget.

Teori konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad 20. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan.

Untuk memahami berarti untuk menemukan, atau menyusun kembali dengan menemukan kembali, dan kondisi seperti itu harus disempurnakan jika, kedepannya, individu yang akan dibentuk yang mampu menghasilkan dan memiliki kreatifitas bukan pengulangan” (Piaget, 1973).

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi  yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7)
ss

Jadi konstrutivisme pembelajaran adalah suatu pembelajaran yang didasarkan faham bahwa perolehan pengetahuan berasal dari diri siswa sendiri dengan cara membangun pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya melalui tindakan dan interaksi dengan lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar