Constructivism
adalah pandangan teoritis yang mengatakan bahwa pelajar lebih mengarah pada
mengkonstruk daripada hanya sekedar menyerap pengetahuan dari pengalamannya (Ormrod, 2006).
Constructivism adalah pengetahuan baru bahwa siswa mengkonstruk
pemahaman mereka sendiri tentang dunia (Elliott,
et. al, 2000)
Mengutip definisi Constructivism
menurut Shuell (1996, dalam Elliott, et
al 2000)
“The
Learner does not merely record or remember the material to be learned and the
task to be performed, selects information perceived to be relevant, and
interprets that information on the basis of his or her existing knowledge and
existing needs. In the process, the learner adds information not explicitly
provided by the teacher whenever such information is needed to make sense of
the material being studied. This process is an active one which the learner
must carry out various operations on the new materials in order for it to be
acquired in a meaningful manner”
Dua kata kunci dalam pengertian
di atas adalah aktif dan pemaknaan. Aktif berarti mengusahakan berbagai
perlakuan pada materi baru agar dapat memiliki makna. Sedangkan pemaknaan itu
sendiri berarti pelajar mencocokkan pengetahuan baru dengan skema yang sudah
ada dalam pikiran sehingga diketahui asosiasi dari keduanya.
Filsafat konstruktivisme
mengatakan bahwa pengetahuan seseorang itu dikonstruksikan oleh siswa sendiri (Suparno,1996).
Konstruktivisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas dan tidak serta merta. (Steffe, 1991). Selanjutnya Steffe
dan Kieren (1995) menyatakan bahwa dengan pendekatan konstruktivisme,
aktifitas matematika dapat diwujudkan melalui penyajian masalah, kerja
berpasangan atau dalam kelompok kecil serta diskusi kelas. Jadi, dalam
pendekatan konstruktivis pembelajaran harus dirancang dengan pendekatan problem
solving, dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna
matematika.
Jadi, dari definisi-definisi di atas, dapat
disimpulkan bahwa constructivism adalah suatu pandangan teoritis yang
menyatakan bahwa siswa diberi kebebasan untuk mengkonstruk pengetahuan melalui
pengalaman sendiri maupun pengalaman kita dengan orang lain.
Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme
sebagai berikut. Pertama adalahperan aktif siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara
gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara
gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama
dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan
tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif
siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian
melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina
pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran
terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan
pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Contoh :
Menghitung Nilai Rata-Rata
Contoh lain yang dapat
dikembangkan oleh guru adalah menentukan rata-rata hitung. Perhatikan
langkah-langkah pembelajarannya.
(a) Siapkan beberapa menara blok
yang tingginya berbeda-beda sebagai benda kongkrit bagi anak.
(b) Minta anak untuk memotong
beberapa menara blok yang lebih tinggi sesuai dengan keinginannya.
(c) Tempelkan potongan menara
blok yang tertinggi kepada menara blok yang terpendek. Selanjutnya, potong
sebagian menara blok yang lebih tinggi dan letakkan atau tempelkan pada menara
blok yang kurang tinggi. Lakukan hal ini seterusnya hingga semua menara blok
adalah sama tingginya. Tinggi menara blok tersebut yang sudah rata disebut
rata-rata tingggi.
(d) Ulangi kegiatan di atas,
dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu setiap menara blok dipotong atau
dipisahkan secara vertikal. Hal ini dilakukan secara berturut-turut.
Selanjutnya, susun hasil potongan dengan cara melintang (horizontal), yaitu
melengketkan pada kertas atau buku matematika anak.
Setelah hal ini dilakukan oleh
anak, ajak mereka untuk berpikir bagaimana jika menara blok tersebut dibagi
oleh lima orang anak sama banyak? Dari sini siswa diharapkan dapat mengkonstruksi
sendiri tentang konsep pembagian, yaitu
25/5 = 5. Dengan demikian,
rata-rata tinggi menara blok tersebut adalah 5.
Dengan pendekatan seperti di
atas, pada akhirnya anak dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui
aktivitas yang dilakukan. Dengan kata lain, tanpa mereka diajar secara paksa,
anak akan memahami sendiri apa yang mereka lakukan dan pelajari melalui
pengalamannya.
Matthews (dalam Suparno, 1997) secara garis besar membagi aliran konstruktivisme menjadi dua,
yaitu konstruktivisme sosial dan konstruktivisme kognitif.
Lev Semenovich Vygotsky menyatakan bahwa peserta didik dalam mengkonstruksi suatu
konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.
Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme social
(socio-constructivism). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky, yaitu Zone
of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat
perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan
masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan
sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau
melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah
bantuan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian
mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung
jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Scaffolding merupakan
bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dan memecahkan
masalah. Bantuan tersebut dapat berupa
petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah
pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan
peserta didik itu belajar mandiri.
Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika
tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari
pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia. Secara
umum, penganut faham konstruktivisme sosial memandang bahwa pengetahuan
matematika merupakan konstruksi sosial.
Hal ini didasarkan pada pandangan
Ernest yang menyatakan bahwa: (1) Basis dari pengetahuan matematika adalah
pengetahuan bahasa, perjanjian dan hukum-hukum, dan pengetahuan bahasa
merupakan konstruksi sosial; (2) Proses sosial interpersonal diperlukan untuk
membentuk pengetahuan subyektif matematika yang selanjutnya melalui publikasi
akan terbentuk pengetahuan matematika; obyektif dan (3) Obyektivitas itu
sendiri merupakan masalah sosial. Konstruktivisme sosial mengaitkan antara
pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif dalam suatu siklus
melingkar. Maksudnya, pengetahuan
matematika baru terbentuk melalui suatu siklus melingkar yaitu dimulai dari
pengetahuan subyektif ke pengetahuan obyektif melalui suatu publikasi. Pengetahuan obyektif matematika
diinternalisasi dan dikonstruksi oleh peserta didik selama proses belajar
matematika.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa menurut pandangan
konstruktivisme sosial, pengetahuan itu diperoleh secara individu yaitu dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari
proses interaksi dengan obyek yang dihadapinya serta pengalaman sosial.
Konstruktivisme psi-kologi biasanya juga disebut konstruktivisme
kognitif lebih menekankan bahwa pengetahuan disusun oleh pembelajar yang aktif
dan independen yang memecahkan masalah dengan menarik makna dari pengalaman dan
konteks terjadinya pengalaman, dan aliran ini dianut oleh Jean Piaget.
Teori konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan
abad 20. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil
sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi
pengetahuan yang bermakna. Sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui
proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan
tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan.
Untuk memahami berarti untuk menemukan, atau menyusun kembali
dengan menemukan kembali, dan kondisi seperti itu harus disempurnakan jika,
kedepannya, individu yang akan dibentuk yang mampu menghasilkan dan memiliki
kreatifitas bukan pengulangan” (Piaget, 1973).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama
(Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran
anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi
baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur
pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai
tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi
pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema
yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7)
ss
Jadi konstrutivisme pembelajaran adalah suatu pembelajaran yang
didasarkan faham bahwa perolehan pengetahuan berasal dari diri siswa sendiri
dengan cara membangun pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya
melalui tindakan dan interaksi dengan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar